5 Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara tentang Distopia

- 27 April 2024, 11:37 WIB
Ilustrasi anak-anak.
Ilustrasi anak-anak. /Pexels/Alex Green/

Aku menemukan tabung berisi orang tua—di luar penderitaan anak yang kehabisan tenaga; tabung mengisi kekosongan akal dari selang tetangga

Aku menemukan ruah di dalam tabung, hujan terlalu lama hidup di atas awan, tetapi seluruh alam menjalar hangat di tubuh manusia

Tetapi aku juga menemukan tabung air yang kosong—orang tua berasumsi musim kemarau akan bocor hingga tahun depan

Aku dan orang tua mencari air di Selat Makassar, lalu membopong kembali di tabung air yang kosong.
2023
Pertengahan Musim Meminum Laut
Aku ingin meminum laut; tetapi laut berlari tergesa-gesa, tetapi aku menahan haus karena negara menyiapkan jeruk panas. Aku kehausan lagi, dan haus kembali. Menyimpan air di dalam negara—tidak lagi menemu

Kekeringanku terbentang di laut. Tetapi aku bermimpi; aku minum laut sampai ke Burkina Faso.
2023
58:58

Orang tiba-tiba datang dari 58:58. Melecut; bibir kering-meringking, menyahut; aroma sinis nan melengking, menyudut; lirik tempat berbaring, membuntut; mengelapai kaki-kaki maling

Setiap hari aku bertemu kebencian; dia seperti tokoh dominan yang sok mengerti cara hidup menahan amarah. 
2023
Generasi Alpha
(Bumi berputar zaman beredar)

Aku menanam, mereka menanak
aku membubuh, mereka membunuh
aku menghijau, mereka memerah
aku mengalir, mereka mengering
aku menyejuk, mereka memanas
mereka kenyang, aku kelaparan
mereka tiada, aku sengsara—sungguh, pekerjaan rumah ini merepotkan
/
Voyager 1 mengembara masa depan
menebus; menebas tata surya
menemu; menamu aku dan dirimu
dalam sajak ini, 11 miliar kilometer dari pusat matahari bertakuk
lihatlah itu, sebuah bahasa tersiar hingga batas-batas heliosfer.
2023

Halaman:

Editor: Suardi Yadjib


Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah